Jakarta, PUBLIKASI – Bau busuk sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di RT. 07 RW. O1 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan, dikeluhkan oleh masyarakat sekitar lokasi. Terlebih saat musim hujan dan malam hari mulai pukul 18.00 WIB hingga pagi hari. Aroma tak sedap cukup menyengat dan sangat menggangu.
Pengelolaan yang buruk dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemprov DKI Jakarta ditengarai menjadi penyebab masalah. Hal itu dibenarkan oleh Ketua RT. 07 RW. 01 Budi, saat dihubungi Koranpublikasi.com, Kamis (28/4/2022).
“Benar, masyarakat protes bau sampah di TPS RT. 07. Saya (ketua RT. 07) pernah mendapat keluhan itu dari warga dan kantor yang ada di sekitar TPS. Mereka menginginkan ada tindaklanjut dari pemerintah atau dinas terkait agar masalah ini tidak terus terjadi,” jelasnya.
Adanya protes Warga RT. 07 RW. 01 Kelurahan Lenteng agung, Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan, atas keberadaan tempat pembuangan sampah sementara tersebut, karena selama ini telah mencemari lingkungan.
Salah satu warga, Asrul mengatakan, pemerintah setempat tidak etis memberikan ijin penempatan TPS yang berada di tengah-tengah perumahan penduduk. Apalagi, di sekitarnya ada tempat ibadah dan sarana pendidikan. Keberadaan TPS itu telah mengganggu sanitasi dan kenyamanan warga.
“Baunya menyengat hingga sejauh satu kilometer. Apalagi jika truk yang mengangkut sampah basah, bau dan seseran airnya sangat bau,” ujarnya.
Asrul menyampaikan warga di nya kecewa kepada pemerintah setempat yang dianggap hanya melaksanakan kebijakan sepihak, tanpa melihat dampak yang akan dirasakan oleh warga.
“Intinya kita menolak keberadaan TPS di lingkungan kami,” cetusnya.
Hal senada diungkapkan warga lainnya, Mamim, 50. Dia mengaku keberadaan atas adanya TPS di lingkungannya. “Sangat tidak etis penempatan TPS di lingkungan penduduk, ada anak yang sedang belajar, orang mau ibadah kebayang bau,” ungkapnya.
Mamim menyebut selama ini pemerintah juga kurang dalam sosialisasi kepada warga atas penempatan TPS di lingkungannya. Banyak warga yang tahu menahu akan sosialisasi tersebut.
“Yang diajak pertemuan hanya segelintir orang saja,” katanya. (Ahmad Sayudhi)

