Jakarta, KORANPUBLIKASI.id – Dalam upaya meningkatkan keterampilan komunikasi, literasi kritis, dan kerja sama tim, Senat Mahasiswa Angkatan 83 Program Studi S1 Ilmu Kepolisian Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Lemdiklat Polri menyelenggarakan kegiatan Public Speaking Competition berbasis literasi kelompok di Gedung Bhadawa STIK, 12 Agustus 2025.
Pesertanya terdiri dari : Mahasiswa Prodi S1 Ilmu Kepolisian STIK Lemdiklat Polri (43 kelompok); Mahasiswa Universitas Indonesia (1 kelompok); Mahasiswa Universitas; Mahasiswa risakti, Jakarta (1 kelompok); Dan Mahasiswa Universitas Tarumanegara, Jakarta (1 kelompok).

Kegiatan ini dirancang untuk mendorong mahasiswa membaca dan memahami buku secara kolaboratif, lalu menyampaikan isi dan pesan buku tersebut secara publik dengan pendekatan yang komunikatif dan kreatif.Public Speaking Competition ini bukan sekadar ajang lomba baca buku. Ia adalah ruang belajar bersama yang menghidupkan literasi, keberanian, dan refleksi. Di tengah suasana formal yang tertata rapi, mahasiswa tampil dengan semangat yang tulus menyampaikan isi buku bukan hanya sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai pengalaman hidup yang mereka resapi dan maknai.
Tujuannya: Meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum secara percaya diri dan terstruktur; Mendorong pemahaman literasi melalui proses membaca dan diskusi kelompok; Melatih kemampuan menyampaikan gagasan secara sistematis dan menarik; Menumbuhkan empati, kerja sama, dan apresiasi terhadap keberagaman perspektif. Adapun teknis pelaksanaan kegiatan itu adalah setiap kelompok memilih salah satu buku yang telah disediakan oleh panitia dalam bentuk softcopy untuk dibaca dan didiskusikan bersama. Kelompok menyusun narasi atau presentasi berdasarkan isi dan pesan buku. Presentasi dilakukan di depan publik dengan durasi maksimal 15 menit.
Selanjutnya juri melakukan penilaian terhadap 43 kelompok yang berasal dari Prodi S1 Ilmu Kepolisian STIK Lemdiklat Polri dan menyisihkan 5 kelompok terbaik untuk tampil bersama dengan kelompok yang berasal dari universitas tamu. Penilaian dilakukan berdasarkan aspek: pemahaman isi, teknik penyampaian, kerja sama tim, dan kreativitas.
Dari hasil dan observasi mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dan peningkatan kemampuan berbicara. Beberapa kelompok menyampaikan isi buku dengan gaya yang kreatif, reflektif, dan menyentuh. Terjadi peningkatan kepercayaan diri, kemampuan menyusun argumen, dan keterampilan menyampaikan pesan secara efektif. Interaksi antar kelompok menunjukkan semangat kolaboratif dan saling menghargai.
Refleksi Penulis Laporan Sebagai Salah Satu Anggota Juri: “Saya datang sebagai juri, tapi pulang sebagai murid. Buku-buku yang mereka bawakan benar-benar membuka cara pandang baru saya sebagai pengajar.”; “Melihat mahasiswa menghidupkan Ego is the Enemy dan The Alchemist di panggung, saya merasa seperti sedang ikut kuliah yang inspiratifbedanya, kali ini saya yang belajar.”; “Kegiatan ini bukan cuma kompetisi, tapi ruang refleksi. Saya jadi makin yakin bahwa literasi dan public speaking bisa jadi alat transformasi di dunia pendidikan.”; “Dari Can’t Hurt Me sampai Leaders Eat Last, saya diajak menyelami ketangguhan, kepemimpinan, dan makna hidupsemua lewat suara mahasiswa yang berani dan jujur.”; “Sebagai pengajar, saya merasa wawasan saya ikut bertumbuh. Kegiatan ini bikin saya ingin mengajar dengan cara yang lebih manusiawi dan penuh makna.”; Sebagai juri, saya datang dengan tugas menilai, tapi justru pulang dengan banyak pelajaran baru. Melihat mahasiswa membawakan cerita tentang buku seperti Ego is the Enemy, The Alchemist, hingga Can’t Hurt Me, saya merasa seperti sedang duduk di kelas yang inspiratif bedanya, kali ini saya yang belajar; Mereka tidak hanya menyampaikan isi buku, tapi juga menghidupkannya dengan refleksi pribadi, keberanian, dan cara pandang yang segar; Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tapi ruang refleksi bersama. Saya jadi makin yakin bahwa literasi dan public speaking bisa menjadi alat transformasi dalam pendidikan. Dari ketangguhan mental hingga kepemimpinan yang penuh empati, saya merasa wawasan saya sebagai pengajar ikut bertumbuh; Rasanya ingin mengajar dengan cara yang lebih manusiawi, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan kehidupan nyata para mahasiswa.
Buku-buku seperti Ego is the Enemy, Meditations, Can’t Hurt Me, The Alchemist, dan Leaders Eat Last menjadi jembatan antara gagasan besar dan suara muda yang berani. Mereka tidak hanya membaca, tetapi menghidupkan nilai-nilai dalam buku melalui cerita pribadi, analogi kontekstual, dan gaya bicara yang menyentuh. Setiap peserta membawa perspektif unik, dan setiap penampilan menjadi ruang refleksi yang memperkaya semua yang hadir baik juri, penonton, maupun sesama peserta. Kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya soal memahami teks, tetapi juga tentang membangun karakter, menyuarakan nilai, dan menciptakan dialog yang bermakna. Di sinilah pendidikan menemukan wajahnya yang paling manusiawi ketika belajar menjadi pengalaman yang dibagikan, bukan sekadar informasi yang disampaikan.
Sebagai rekomendasi kegiatan ini terbukti efektif untuk metode pembelajaran aktif dan humanistik, disarankan untuk diadakan secara berkala dengan variasi tema buku dan format presentasi, perlu pendampingan dalam pemilihan buku agar sesuai dengan tingkat pemahaman dan konteks mahasiswa, para kelompok pemenang disarankan agar ditampilkan pada kegiatan apel pagi awal bulan yang dihadiri oleh semua personel STIK Lemdiklat Polri di lapangan upacara.
Kepada KORANPUBLIKASI.id, Dosen STIK Lemdiklat Polri Rahmadsyah Lubis, M.Pd., saat diwawaancarai di ruang kerjanya, hari ini, mengakui, suasana acara berlangsung dengan nuansa yang formal namun tetap hangat. Ruangan besar yang tertata rapi, lengkap dengan podium, layar digital, dan bendera resmi, memberikan kesan profesional sekaligus membangun rasa hormat terhadap proses kompetisi. Para peserta yang hadir dengan seragam kampus kebanggan masing-masing tampak antusias dan siap tampil, sementara juri dan penonton menyimak dengan penuh perhatian. Panggung menjadi ruang ekspresi yang hidup di mana suara, refleksi, dan isi buku berpadu menjadi pertunjukan yang tidak hanya kompetitif, tapi juga inspiratif. Meskipun formatnya resmi, suasana tetap cair dan mendukung, menciptakan ruang aman bagi mahasiswa untuk berbicara, berekspresi, dan belajar bersama.
Ia menambahkan, Public Speaking Competition berbasis literasi kelompok ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran yang memperkuat karakter, literasi, dan komunikasi mahasiswa. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi untuk pendekatan pembelajaran yang lebih partisipatif, reflektif, dan bermakna dan dapat dilakukan secara berkala. sudin hsb

